Kamis, 14 April 2011

sebuah cerpen

Besar dari Keterpurukan

Pada hari ketika saya menjadi besar, menjadi cukup baik di bidang akademik di SMA 1 Sidareja tak lepas dari sebuah masa silamku. Dimana kepribadianku jauh berbeda dengan saat ini.

Adalah ketika saya masih SMP, tepatnya SMP 1 Patimuan kelas Sembilan. Jujur, aku sekolah selain mencari ilmu tetapi juga mencari sensasi layaknya artis yang sedang naik daun.

Heri Apriyanto S,Pd. adalah kakak sekaligus mentor bagi saya dan bagi teman-teman seperjuangan saya. Mereka adalah Yuniar Tri Prakoso, Ahmad A.Ghofur, Ibnu Arsal Nugrahanto, Dino Haryanto, dan Eko Pradito. Kami adalah kelompok yang kompak. Akhirnya kami bersama kembali menjalani pendidikan atas disini. Mentoring itu dilakukan ketika makin ramainya berbagai macam penyimpangan anak-anak muda. Mentoring ini sering disebut halaqah yang bertujuan agar membimbing kami ke jalan yang benar menjadi insan rabbani.

Sebelum kami mengenal halaqah, tak jauh kami tersesat dalam hati kami sendiri. Tak tahu kemana arah tujuan. Dengan adanya ini kamipun merasa terbina dan terarah untuk mencapai sukses dunia dan akhirat.

Ada saat aku merasa berhenti, merasa mati pada waktu kelas Sembilan. Dimana tinggal satu bulan menjelang UN SMP, aku divonis terkena bronkhitis. Ya bronkhitis, dokter mengatakan bahwa saya tidak boleh tidur terlalu malam, minimal jam delapan harus sudah tidur.

Di keadaan inilah saat aku merasa putus asa. Aku merenung dan berkata, “Tidur saja jam delapan, pulang sekolah sore, mana bisa belajar? Kalau tak belajar, mana lulus dengan nilai baik?” Pertanyaan-pertanyaan it terus menghantui saat aku berdiam diri.

Dalam kondisiku yang terpuruk ini, saatku lelah memikirkan sakitku, hatiku menjerit tatkala terjadi sebuah tragedi cinta. Dimana orang yang aku sukai, kita sebut saja Stef, harus jatuh ke hati yang lain. Dengan keadaan ini nilai try outku yang ketigapun anjlok di bawah enam. Sungguh sangat memprihatinkan dibandingkan try out kesatu dan kedua dengan nilai diatas delapan.

Belum selesai atas masalah ini, kekasih Stef menuduhku bahwa aku merusak hubungan mereka. Padahal aku tak punya hubungan dengan Stef. Dia juga menerorku melalui sms-smsnya. Dia berkata, “Woy, siapa yang mengadakan acara balikan? Stef itu milikku. Mau apa kau? Berkelahi?” Dengan santai aku menjawab, “Balikan apa? Ku tak punya hubungan apa-apa lagi dengan Stef. Jikalau tak terpercaya tanya padanya!” “Kurang ajar, nantang yah?” jawabnya dengan marah. “Tak akan, silakan jika tak percaya.” Jawab aku tanpa berfikir jauh. Akupun tak pernah memasalahkannya. Biarlah dia menuduhku apa aku ini.

Di keheningan suatu malam aku mencoba untuk bangkit dari ranjangku, dinginnya malam seolah ia tahu akan perasaanku. Mengalirkan air wudhu ke tubuhku dan menikmati lezatnya sholat malam. Sebuah keyakinan tinggi bercampur doa dengan tetesan air dari mata yang turun teruntai menghiasi sajadah bagai dosa dan noda yang selama ini aku lakukan. Aku panjatkan sebuah doa agar hatiku bisa tenang dan aku memohon agar aku menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah ini dan agar sakitku bisa sembuh.

Sakitku semakin hari semakin bertambah. Ke dokterpun tak ada bedanya jua. Ibuku selalu membawaku ke dokter, mantri dan ahli medis lainnya. Hasilnya tetap nihil. Biayapun mahal, tak sedikitpun ibuku menyimpan uangnya kecuali untuk aku berobat. “Nak, tabahlah! Sebuah sakit berarti Alloh perhatian dengan dirimu. Dia ingin tahu seberapa besar keikhlasanmu dan keimananmu.” Kata Ibu sambil tersenyum. “Ya, engkau benar Bu! Aku percaya dengan sakitku ini. Aku akan menjadi besar.” Jawab aku dengan optimis.

Setiap malam tak lupa aku selalu sempatkan bermediasi dengan Sang Maha Dahsyat. Akupun berjalan kekamar lalu berfikir dan berkata, “Ibu, Ayah akan aku buktikan meski fisikku sakit, tapi aku yakin aku bisa dengan kecerdasanku meraih prestasi, lulus UN dengan nilai memuaskan lalu ke SMA dan mendapatkan paralel.”

Mentorkupun tak henti-hentinya memberi motivasi kepadaku. Mas Heri begitulah panggilannya, Baliau berkata, “Kau harus tahu Vik, Orang-orang luar biasa tak selalu memiliki kesempatan luar biasa, tetapi mereka hanya memanfaatkan dan mengisi kesempatan itu dengan hal-hal yang luar biasa.” “Benar Mas, tapi apa aku bisa?” Jawab aku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Jangan katakan itu, sebuah keberhasilan harus diawali dengan kepercayaan. Percayalah pada dirimu! Percayalah pada Tuhan! Kau pasti bisa!” seru Mas Heri. “Baiklah, aku percaya dan aku yakin aku pasti bisa! Syukran atas motivasinya.” Jawab aku dengan semangatnya. “Afwan.” Kata Mas Heri dengan gaya bahasa Arabnya.

Bangun, bangun dan bangun. Ya itulah solusinya. Bangunlah aku dari keterpurukanku, dari ketidakberdayaanku dan aku percaya kepada Tuhan Yang Maha Dahsyat bahwa Engkau akan memberikan kesembuhan dan sebuah cinta dari gadis yang lebih baik dari Stef. Dan aku percaya pula dengan doaku akan keberhasilanku.

Ibukupun menemukan titik balik untuk menyembuhkanku. Yaitu dengan memberikan dua kaleng Bear Breand Milk per hari. Dan akhirnya setelah mengkonsumsi 30 kaleng, sembuhlah aku. “Alhamdulillah Nak, usaha yang kita lakukan berhasil juga, itu tak lepas atas kepercayaanmu akan kesembuhanmu.” Syukur Ibu dengan senyum kecilnya. “Ya Bu, terima kasih atas dukungan Ibu baik materi maupun moral kepadaku.” Jawab aku dengan penuh rasa bahagia. Sungguh Tuhan telah mengabulkan doaku.

Belajar, belajar dan belajar tiada henti setiap waktu aku geluti dan akhirnya paralel empat UN aku dapatkan di SMP ini. Ya, aku bersyukur atas itu. Sekali lagi Tuhan menjawab doaku. Tak henti-hentinya aku bersyukur atas itu.

Setelah lulus, aku masuk ke SMA 1 Sidareja. Perjuangan berat dan bersaing dengan orang-orang cerdas pada Ulangan Tengah Semester 1. Akhirnya paralel 2 aku dapatkan. Aku berkata dengan rasa bahagia, “Ya! Alloh memang luar biasa dengan segala Kemurahannya. Aku percaya bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan.”

Disini pulalah aku menemukan sebuah cinta yang indahnya sungguh tak terlukiskan, siapakah gerangan? Nama populernya Qurratul Ainiah yang berarti penyejuk jiwa. Karena kehadirannya selalu membuatku tersenyum disetiap langkahku.

Ya inilah doaku. Doa yang Alloh kabulkan. Sebenarnya setiap doa akan dikabulkan, tinggal apakah kita percaya dengan doa kita dan seberapa besar usaha kita untunk mengambil hasil dari doa kita.

Sekarang aku berprinsip untuk tidak mengatakan tidak bisa tetapi harus bisa dan pasti bisa pada sebuah kesuksesan dan kebenaran. Karena tidak ada kata gagal, yang ada hanya sukses atau balajar. Ini adalah salah satu prinsip dahsyatku untuk menjadi luar biasa di tengah-tengah keterbatasan yang aku miliki. Dan Alloh telah menjawab doaku itu.

Oleh Viki Adi Nugroho (11 April 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar