Jumat, 15 April 2011
ARTI SEBUAH KESEMPURNAAN
Seorang lelaki yg sangat tampan dan sempurna merasa
bahwa Tuhan pasti menciptakan seorang perempuan
yg sangat cantik dan sempurna pula untuk jodohnya.
Karena itu ia pergi berkeliling untuk mencari jodohnya.
Kemudian sampailah ia disebuah desa. Ia bertemu dengan
seorang petani yg memiliki 3 anak perempuan dan semuanya
sangat cantik. Lelaki tsb menemui bapak petani dan
mengatakan bahwa ia ingin mengawini salah satu anaknya tapi
bingung mana yang paling sempurna.
Sang Petani menganjurkan untuk mengencani mereka satu
persatu dan si Lelaki setuju. Hari pertama ia pergi berduaan
dgn anak pertama. ketika pulang,ia berkata kepada bapak
Petani,” Anak pertama bapak memiliki satu cacat kecil, yaitu
jempol kaki kirinya lebih kecil dari jempol kanan.”
Hari berikutnya ia pergi dgn anak yang kedua dan ketika pulang
dia berkata,”Anak kedua bapak juga punya cacat yang
sebenarnya sangat kecil yaitu agak juling.”
Akhirnya pergilah ia dengan anak yang ketiga. begitu pulang ia
dengan gembira mendatangi Petani dan berkata,”inilah yang
saya cari-cari. Ia benar-benar sempurna.”
Lalu menikahlah si Lelaki dgn anak ketiga Petani tersebut.
Sembilan bulan kemudian si Istri melahirkan. dengan penuh
kebahagian, si Lelaki menyaksikan kelahiran anak pertamanya.
Ketika si anak lahir, Ia begitu kaget dan kecewa karena anaknya
sangatlah jelek. Ia menemui bapak Petani dan bertanya “ Kenapa
bisa terjadi seperti ini Pak. Anak bapak cantik dan saya Tampan,
Kenapa anak saya bisa sejelek itu..?””
Petani menjawab,” Ia mempunyai satu cacat kecil yang tidak
kelihatan . Waktu itu Ia sudah hamil duluan.....”
Kadangkala saat kita mencari kesempurnaan, yang kita dapat
kemudian kekecewaan. Tetapi kala kita siap dengan kekurangan,
maka segala sesuatunya akan terasa istimewa.
============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 380-381. ISBN 978-6028-686-938.
DI MANA KITA MENEMUKAN KEBAHAGIAAN?
KEBAHAGIAAN?
Konon pada suatu waktu, Tuhan memanggil tiga
malaikatnya.
Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, “Ini
namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan
diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya
manusia sendiri yang menemukannya. Jangan ditempat yang
terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan ini disia-siakan. Tetapi
jangan pula di tempat yang terlalu susah sehingga tidak bisa
ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan
kebahagiaan itu di tempat yang bersih”.
Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat
itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut.
Tetapi dimana meletakkannya? Malaikat pertama mengusulkan,
“Letakan dipuncak gunung yang tinggi”. Tetapi para malaikat
yang lain kurang setuju. Lalu malaikat kedua berkata, “Latakkan
di dasar samudera”. Usul itupun kurang disepakati. Akhirnya
malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung
sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga
malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan
tadi.
Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di
tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari
hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan.
Kita semua ingin menemukan kebahagiaan.
Kita ingin merasa bahagia. Tapi dimana mencarinya?
Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung,
ada yang mencari di pantai, Ada yang mencari ditempat yang
sunyi, ada yang mencari ditempat yang ramai. Kita mencari rasa
bahagia di sana-sini: di pertokoan, di restoran, ditempat ibadah,
di kolam renang, di lapangan olah raga, di bioskop, di layar
televisi, di kantor, dan lainnya. Ada pula yang mencari
kebahagiaan dengan kerja keras, sebaliknya ada pula yang
bermalas-malasan. Ada yang ingin merasa bahagia dengan
mencari pacar, ada yang mencari gelar, ada yang menciptakan
lagu, ada yang mengarang buku, dll.
Pokoknya semua orang ingin menemukan kebahagiaan.
Pernikahan misalnya, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan.
Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah
berarti belum bahagia. Padahal semua orang juga tahu bahwa
menikah tidaklah identik dengan bahagia.
Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan.
Alangkah bahagianya kalu aku punya ini atau itu, pikir kita. Tetapi
kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda
tersebut tidak memberi kebahagiaan.
Kita ingin menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu diletakkan
oleh tiga malaikat secara rapi. Dimana mereka meletakkannya?
Bukan dipuncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat
pertama. Bukan didasar samudera seperti usulan malaikat
kedua. Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh malaikat
ketiga.
Dimanakah tempatnya??? ada yang tahu???
Tempatnya adalah di “ hati yang bersih”
..............................
============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 424-425. ISBN 978-6028-686-938.
Kamis, 14 April 2011
3 PERTANYAAN
Ada seorang pemuda yang mencari seorang guru
agama, pemuka agama atau siapapun yang bisa
menjawab tiga pertanyaannya. Akhirnya sang
pemuda itu menemukan seorang bijaksana.
Pemuda (P) : Anda siapa? Bisakah menjawab pertanyaan-pertanyaan
saya?
Bijaksana (B) : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan
menjawab pertanyaan anda.
P : Anda yakin? Sedang profesor dan banyak orang pintar saja
tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
B : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
P : Saya punya tiga buah pertanyaan.
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada
saya.
2. Apakah yang dinamakan takdir?
3. Kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukkan ke neraka
yang terbuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat setan,
sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak
pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba sang orang bijaksana tersebut menampar pipi si
pemuda dengan keras.
P (sambil menahan sakit) : Kenapa anda marah kepada saya?
B : Saya tidak marah… Tamparan itu adalah jawaban saya atas
tiga buah pertanyaan yang Anda ajukan.
P : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
B : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Tentu saja saya merasa sakit.
B : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
P : Ya.
B : Tunjukkan pada saya wujud sakit itu!
P : Saya tidak bisa.
B : Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan
keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudNya
B : Apakah tadi malam Anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
P : Tidak.
B : Apakah pernah terpikir oleh Anda akan menerima sebuah
tamparan dari saya hari ini?
P : Tidak.
B : Itulah yang dinamakan Takdir.
B : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar
anda?
P : Kulit.
B : Terbuat dari apa pipi anda?
P : Kulit.
B : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Sakit
B : Walaupun setan dan neraka sama terbuat dari api, neraka
tetap menjadi tempat menyakitkan untuk setan.
============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 342-343. ISBN 978-6028-686-938.
MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT?
TANPA SYARAT?
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia
yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam,
Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan
merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka
menikah sudah lebih 32 tahun Mereka dikarunia 4 orang anak
di sinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak
ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan
itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ketiga seluruh
tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang
lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran,
menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur.
Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV
supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya
tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu
jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk
menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang
memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib
dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apaapa
saja yang dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa
menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia
selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun,
dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan
ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah
dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah
orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah
anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masingmasing
dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg
merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yg sulung berkata “Pak
kami ingin sekali merawat ibu , semenjak kami kecil melihat
bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari
bibir bapak.........bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” .
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya”
sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah
lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak
menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami
sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat
ibu sebaik-baik secara bergantian”.
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2
mereka.
“Anak-anakku ......... Jikalau perkawinan dan hidup didunia ini
hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah......tapi
ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah
lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian…sejenak
kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir
didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat
menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah
dia menginginkan keadaanya seperti ini.
Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa
bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang,
kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan
dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih
sakit.”
Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Merekapun
melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno..
dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun
TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun
mengajukan pertanyaan kepada Suyatno
kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg
sudah tidak bisa apa-apa.
disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di
studio. kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup
menahan haru
disitulah pak Suyatno bercerita;
***Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam
perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu,
tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan.
Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan
sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai
saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia
memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit
karena berkorban untuk cinta kita bersama…dan itu merupakan
ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk
mencintainya apa adanya, sehatpun belum tentu saya mencari
penggantinya apalagi dia sakit ***
============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 301-303. ISBN 978-6028-686-938.
SUSAHNYA MEMAHAMI WANITA
Suatu malam, ketika sedang berjalan sepanjang
pelabuhan Ketapang Banyuwangi Jawa Timur, seorang
pria menemukan lampu tua yang diletakkan
di atas batu. Ketika ia mengambil dan menggosoknya, seorang
Jin mendadak muncul.
“Baik, cukup sudah!” bentak Jin itu.
“Ini keempat kalinya dalam bulan ini orang menggangguku!
Aku begitu marah sampai aku hanya akan memberimu satu
permintaan bukannya tiga! Jadi ayolah, ayo! Katakan apa yang
kau inginkan, dan jangan membuang waktuku seharian!.”
Orang itu berpikir cepat, kemudian berkata,
“Yah, aku selalu bermimpi pergi ke Bali, tetapi aku takut terbang
dan aku cenderung mabuk laut di atas kapal. Bagaimana kalau
kau buatkan aku jembatan ke Bali? Dengan begitu, aku bisa naik
mobil ke sana.” Jin itu tertawa.
“Jembatan ke Bali?! Kau pasti bercanda? Bagaimana aku bisa
mendapat penyangga yang sampai ke dasar Laut? Itu
membutuhkan terlalu banyak baja, dan sangat terlalu banyak
beton! itu sama sekali tidak bisa dilakukan! Pikirkan permintaan
lain!” Kecewa, pria itu berusaha keras untuk memikirkan
permintaan lain.
Akhirnya ia berkata,
“Baiklah, aku punya keinginan lain. Semua wanita dalam
hidupku berkata aku tidak peka. Aku berusaha dan berusaha
untuk menyenangkan mereka, tetapi tidak ada yang berhasil.
Aku tidak tahu di mana kesalahanku. Satu permintaanku adalah
untuk mengerti wanita... tahu bagaimana sebenarnya perasaan
mereka ketika mereka membisu padaku... tahu mengapa
mereka menangis ... tahu apa yang mereka inginkan ketika
mereka tidak memberitahu aku apa yang sebenarnya mereka
inginkan... aku ingin tahu apa yang membuat mereka benar-benar
bahagia.”
Sunyi sejenak, kemudian Jin itu berkata, “Kau mau jembatan itu
berjalur dua atau empat?”
………………………………………………………..
MORAL CERITA:
benarkah wanita begitu rumit untuk dipahami?
============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 351-352. ISBN 978-6028-686-938.
sebuah cerpen
Besar dari Keterpurukan
Pada hari ketika saya menjadi besar, menjadi cukup baik di bidang akademik di SMA 1 Sidareja tak lepas dari sebuah masa silamku. Dimana kepribadianku jauh berbeda dengan saat ini.
Adalah ketika saya masih SMP, tepatnya SMP 1 Patimuan kelas Sembilan. Jujur, aku sekolah selain mencari ilmu tetapi juga mencari sensasi layaknya artis yang sedang naik daun.
Heri Apriyanto S,Pd. adalah kakak sekaligus mentor bagi saya dan bagi teman-teman seperjuangan saya. Mereka adalah Yuniar Tri Prakoso, Ahmad A.Ghofur, Ibnu Arsal Nugrahanto, Dino Haryanto, dan Eko Pradito. Kami adalah kelompok yang kompak. Akhirnya kami bersama kembali menjalani pendidikan atas disini. Mentoring itu dilakukan ketika makin ramainya berbagai macam penyimpangan anak-anak muda. Mentoring ini sering disebut halaqah yang bertujuan agar membimbing kami ke jalan yang benar menjadi insan rabbani.
Sebelum kami mengenal halaqah, tak jauh kami tersesat dalam hati kami sendiri. Tak tahu kemana arah tujuan. Dengan adanya ini kamipun merasa terbina dan terarah untuk mencapai sukses dunia dan akhirat.
Ada saat aku merasa berhenti, merasa mati pada waktu kelas Sembilan. Dimana tinggal satu bulan menjelang UN SMP, aku divonis terkena bronkhitis. Ya bronkhitis, dokter mengatakan bahwa saya tidak boleh tidur terlalu malam, minimal jam delapan harus sudah tidur.
Di keadaan inilah saat aku merasa putus asa. Aku merenung dan berkata, “Tidur saja jam delapan, pulang sekolah sore, mana bisa belajar? Kalau tak belajar, mana lulus dengan nilai baik?” Pertanyaan-pertanyaan it terus menghantui saat aku berdiam diri.
Dalam kondisiku yang terpuruk ini, saatku lelah memikirkan sakitku, hatiku menjerit tatkala terjadi sebuah tragedi cinta. Dimana orang yang aku sukai, kita sebut saja Stef, harus jatuh ke hati yang lain. Dengan keadaan ini nilai try outku yang ketigapun anjlok di bawah enam. Sungguh sangat memprihatinkan dibandingkan try out kesatu dan kedua dengan nilai diatas delapan.
Belum selesai atas masalah ini, kekasih Stef menuduhku bahwa aku merusak hubungan mereka. Padahal aku tak punya hubungan dengan Stef. Dia juga menerorku melalui sms-smsnya. Dia berkata, “Woy, siapa yang mengadakan acara balikan? Stef itu milikku. Mau apa kau? Berkelahi?” Dengan santai aku menjawab, “Balikan apa? Ku tak punya hubungan apa-apa lagi dengan Stef. Jikalau tak terpercaya tanya padanya!” “Kurang ajar, nantang yah?” jawabnya dengan marah. “Tak akan, silakan jika tak percaya.” Jawab aku tanpa berfikir jauh. Akupun tak pernah memasalahkannya. Biarlah dia menuduhku apa aku ini.
Di keheningan suatu malam aku mencoba untuk bangkit dari ranjangku, dinginnya malam seolah ia tahu akan perasaanku. Mengalirkan air wudhu ke tubuhku dan menikmati lezatnya sholat malam. Sebuah keyakinan tinggi bercampur doa dengan tetesan air dari mata yang turun teruntai menghiasi sajadah bagai dosa dan noda yang selama ini aku lakukan. Aku panjatkan sebuah doa agar hatiku bisa tenang dan aku memohon agar aku menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah ini dan agar sakitku bisa sembuh.
Sakitku semakin hari semakin bertambah. Ke dokterpun tak ada bedanya jua. Ibuku selalu membawaku ke dokter, mantri dan ahli medis lainnya. Hasilnya tetap nihil. Biayapun mahal, tak sedikitpun ibuku menyimpan uangnya kecuali untuk aku berobat. “Nak, tabahlah! Sebuah sakit berarti Alloh perhatian dengan dirimu. Dia ingin tahu seberapa besar keikhlasanmu dan keimananmu.” Kata Ibu sambil tersenyum. “Ya, engkau benar Bu! Aku percaya dengan sakitku ini. Aku akan menjadi besar.” Jawab aku dengan optimis.
Setiap malam tak lupa aku selalu sempatkan bermediasi dengan Sang Maha Dahsyat. Akupun berjalan kekamar lalu berfikir dan berkata, “Ibu, Ayah akan aku buktikan meski fisikku sakit, tapi aku yakin aku bisa dengan kecerdasanku meraih prestasi, lulus UN dengan nilai memuaskan lalu ke SMA dan mendapatkan paralel.”
Mentorkupun tak henti-hentinya memberi motivasi kepadaku. Mas Heri begitulah panggilannya, Baliau berkata, “Kau harus tahu Vik, Orang-orang luar biasa tak selalu memiliki kesempatan luar biasa, tetapi mereka hanya memanfaatkan dan mengisi kesempatan itu dengan hal-hal yang luar biasa.” “Benar Mas, tapi apa aku bisa?” Jawab aku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Jangan katakan itu, sebuah keberhasilan harus diawali dengan kepercayaan. Percayalah pada dirimu! Percayalah pada Tuhan! Kau pasti bisa!” seru Mas Heri. “Baiklah, aku percaya dan aku yakin aku pasti bisa! Syukran atas motivasinya.” Jawab aku dengan semangatnya. “Afwan.” Kata Mas Heri dengan gaya bahasa Arabnya.
Bangun, bangun dan bangun. Ya itulah solusinya. Bangunlah aku dari keterpurukanku, dari ketidakberdayaanku dan aku percaya kepada Tuhan Yang Maha Dahsyat bahwa Engkau akan memberikan kesembuhan dan sebuah cinta dari gadis yang lebih baik dari Stef. Dan aku percaya pula dengan doaku akan keberhasilanku.
Ibukupun menemukan titik balik untuk menyembuhkanku. Yaitu dengan memberikan dua kaleng Bear Breand Milk per hari. Dan akhirnya setelah mengkonsumsi 30 kaleng, sembuhlah aku. “Alhamdulillah Nak, usaha yang kita lakukan berhasil juga, itu tak lepas atas kepercayaanmu akan kesembuhanmu.” Syukur Ibu dengan senyum kecilnya. “Ya Bu, terima kasih atas dukungan Ibu baik materi maupun moral kepadaku.” Jawab aku dengan penuh rasa bahagia. Sungguh Tuhan telah mengabulkan doaku.
Belajar, belajar dan belajar tiada henti setiap waktu aku geluti dan akhirnya paralel empat UN aku dapatkan di SMP ini. Ya, aku bersyukur atas itu. Sekali lagi Tuhan menjawab doaku. Tak henti-hentinya aku bersyukur atas itu.
Setelah lulus, aku masuk ke SMA 1 Sidareja. Perjuangan berat dan bersaing dengan orang-orang cerdas pada Ulangan Tengah Semester 1. Akhirnya paralel 2 aku dapatkan. Aku berkata dengan rasa bahagia, “Ya! Alloh memang luar biasa dengan segala Kemurahannya. Aku percaya bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan.”
Disini pulalah aku menemukan sebuah cinta yang indahnya sungguh tak terlukiskan, siapakah gerangan? Nama populernya Qurratul Ainiah yang berarti penyejuk jiwa. Karena kehadirannya selalu membuatku tersenyum disetiap langkahku.
Ya inilah doaku. Doa yang Alloh kabulkan. Sebenarnya setiap doa akan dikabulkan, tinggal apakah kita percaya dengan doa kita dan seberapa besar usaha kita untunk mengambil hasil dari doa kita.
Sekarang aku berprinsip untuk tidak mengatakan tidak bisa tetapi harus bisa dan pasti bisa pada sebuah kesuksesan dan kebenaran. Karena tidak ada kata gagal, yang ada hanya sukses atau balajar. Ini adalah salah satu prinsip dahsyatku untuk menjadi luar biasa di tengah-tengah keterbatasan yang aku miliki. Dan Alloh telah menjawab doaku itu.
Oleh Viki Adi Nugroho (11 April 2011)